BBM BERMUTU

10 Nov

BAHAN BELAJAR MANDIRI UNTUK PESERTA MGMP BERMUTU :
TOPIK : IDENTIFIKASI MASALAH

A. PENGANTAR
Bahan Belajar Mandiri berikut ini adalah Bahan Belajar Mandiri tahap pertama dari tujuh tahap belajar terkait bidang studi dengan topik Identifikasi Masalah.
Identifikasi masalah merupakan bagian dari tahap perencanaan, yaitu tahap pertama dari empat tahap utama dalam PTK. Prosedur identifikasi masalah penting dilakukan karena identifikasi masalah adalah dasar yang penting untuk perbaikan kinerja diri guru dalam pembelajaran. Jika guru mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam pembelajarannya berarti guru mampu memperbaiki kompetensinya secara berkelanjutan.
Identifikasi masalah adalah dasar untuk melaksanakan PTK dan bagian dari kompetensi profesional guru. Jika guru dapat mengidentifikasi masalah dengan baik, maka ia telah memulai perencanaan PTK dengan benar. Fokus dari perencanaan PTK dan manfaat dari hasil PTK tergantung pada kejelasan masalah yang didefinisikan.
Dalam Bahan Belajar Mandiri ini diberikan contoh bagaimana melakukan prosedur awal PTK yaitu mengidentifikasi dan merumuskan masalah pembelajaran matematika SMP. Prosedur mengidentifikasi masalah dilaksanakan melalui studi kasus, video pembelajaran atau respon/hasil kerja siswa dari kelas masing-masing guru (lihat daftar sumber belajar). Case study merupakan cara yang efektif untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran sehari-hari yang kita targetkan untuk diperbaiki.
Ruang lingkup pembahasan topik identifikasi masalah meliputi: (a) cara melakukan identifikasi masalah, (b) menganalisis faktor penyebab masalah, dan (c) merumuskan masalah.
Konteks yang dibahas dalam topik ini adalah masalah-masalah yang terkait dengan pembelajaran Matematika di SMP. Masalah itu mencakup aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan praktik/pelaksanaan pembelajaran.
Aspek pengembangan kurikulum antara lain meliputi pemahaman tujuan mata pelajaran matematika, kemampuan menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar, pengembangan silabus, RPP, LKS, dan rancangan penilaian hasil belajar matematika.
Aspek penguatan materi antara lain meliputi pemahaman dan penguasaan konsep dan materi matematika dalam kajian bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, statistika dan peluang.
Praktik/pelaksanaan pembelajaran antara lain mencakup pemilihan strategi/model pembelajaran, pendekatan, metode, media pembelajaran, pemilihan dan penggunaan keterampilan dasar mengajar pengelolaan kelas dan pengelolaan penilaian hasil belajar matematika.
Dalam mempelajari topik Identifikasi Masalah ini, para guru peserta akan melaksanakan beberapa tahap kegiatan belajar, yaitu kegiatan di MGMP dan kegiatan tugas terstruktur dan tugas mandiri.
Kegiatan tatap muka di MGMP mencakup hal-hal sebagi berikut.
1. Melakukan brainstorming (curah pendapat) mengenai permasalahan yang mereka hadapi dalam pembelajaran matematika kemudian mengklasifi-kasinya menurut aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan pelaksanaan pembelajaran.
2. Mengidentifikasi masalah dan menganalisis faktor penyebab masalah, serta merumuskan masalah dengan media narasi case study-1.
3. Melakukan latihan secara berpasangan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis faktor penyebab masalah, dan merumuskan masalah dengan media narasi case study-2.
4. Menyusun rangkuman dan refleksi hasil belajar pada pertemuan yang baru saja diikuti.
5. Membaca tugas terstruktur dan tugas mandiri.
Kegiatan Tugas Terstruktur dan Tugas mandiri:
Para guru peserta disiapkan untuk melaksanakan tugas terstruktur dan tugas mandiri sebagai rangkaian dari kegiatan tatap muka di MGMP.
Tugas terstruktur pada topik Identifikasi Masalah ini intinya adalah mengkaji dan merefleksi pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan oleh masing-masing guru peserta. Selanjutnya hasil kajian pembelajaran dan refleksi itu dituangkan dalam daftar maslah pembelajaran matematika yang dihadapi dan case study yang dilengkapi dengan rumusan masalah. Tugas mandiri dilaksanakan dengan membaca dan mengkaji sumber belajar yang relevan. Uraian kegiatan terstruktur dan tugas mandiri diuraikan pada kegiatan pembelajaran (bagian E).

B. KOMPETENSI DAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Kompetensi dan indikator pencapaian kompetensi yang ingin dicapai pada kegiatan belajar dengan topik Identifikasi Masalah sebagai berikut.
Kompetensi Indikator Pencapaian Kompetensi
Guru peserta mampu:
1. melakukan refleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, sebagai dasar perbaikan kinerja guru dalam mengelola pembelajaran Guru peserta mampu:
a. mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran matematika SMP yang dihadapi.
b. mengklasifikasi masalah-masalah yang terindentifikasi ke dalam aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan praktik pelaksanaan pembelajaran
2. menyusun langkah pertama dalam perencanaan PTK yaitu mengidentifikasi dan merumuskan masalah a. menganalisis faktor-faktor penyebab suatu masalah
b. merumuskan masalah

C. PERSIAPAN
1. Untuk mempelajari topik identifikasi dan perumusan masalah, guru pemandu perlu mempelajari topik dan sumber belajar yang relevan serta menyiapkan bahan presentasi untuk sesi ini.
Bahan presentasi-1 Informasi kegiatan pada pertemuan tentang Identifikasi Masalah
Bahan presentasi-2 Kedudukan Identifikasi Masalah dalam urutan PTK
Bahan presentasi-3 Format identifikasi dan klasifikasi masalah
Bahan presentasi-4 Daftar contoh masalah pembelajaran matematika SMP menurut aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan praktik/pelaksanaan pembelajaran
Bahan presentasi-5 Materi diskusi
Bahan presentasi-6 Format identifikasi, analisis dan perumusan masalah
Bahan presentasi-7 Daftar pertanyaan refleksi

2. Guru pemandu menyiapkan alat yang diperlukan dalam sesi ini misal: papan tulis/kertas plano/kapur/spidol, OHP/OHT, LCD dan laptop (bila memungkinkan) dan sumber belajar berbentuk hand out yang akan didistribusikan kepada guru peserta.

D. SUMBER BELAJAR
Daftar sumber belajar yang dapat digunakan guru peserta dalam kegiatan ini antara lain:
NOMOR JUDUL AKSES
Sumber Belajar 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika SMP Dilampirkan/ICT BERMUTU
Sumber Belajar 2 Contoh case study-1 pembelajaran matematika SMP Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 3 Contoh case study-2 pembelajaran matematika SMP Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 4 Contoh video pembelajaran matematika SMP dari TIMSS ICT BERMUTU
Sumber Belajar 5 Contoh respon/hasil kerja siswa yang bermasalah Disediakan guru peserta
Sumber Belajar 6 Contoh proses merumuskan masalah Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 7 Contoh rangkuman Identifikasi Masalah Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 8 Penelitian Tindakan SD – 4 SKS oleh Aunurrahman terbitan Ditjen Dikti Depdiknas Tahun 2008 ICT BERMUTU
Sumber Belajar 9 Hylite Modul PTK ICT BERMUTU
Sumber Belajar 10 Buku-buku tentang PTK, misalnya dari Suharsimi Arikunto, dkk, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Cetakan ke-3, Jakarta, Bumi Aksara ICT BERMUTU

E. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan belajar tatap muka di MGMP dikelola dalam waktu 4 x 50 menit.
Penjelasan Kegiatan Pembelajaran:
Kegiatan-1 (10 menit):
1. Informasi kegiatan mencakup penjelasan tentang topik yang akan dipelajari, kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, kegiatan belajar yang akan dilakukan, hasil yang diharapkan dicapai dan penguatan.
2. Bahan presentasi/sumber belajar yang digunakan: (a) Bahan presentasi -1: Informasi kegiatan pada pertemuan tentang Identifikasi Masalah, (b) Bahan presentasi-2: Kedudukan Identifikasi Masalah dalam urutan PTK.

Kegiatan-2 (40 menit):
Melakukan brainstorming (curah pendapat) permasalahan yang dihadapi guru dalam melaksanakan pembelajaran Matematika SMP.
1. Guru pemandu memimpin kegiatan brainstorming. Permasalahan hasil brainstorming diklasifikasi menurut aspek pengembangan kurikulum, penguasaan materi, dan pelaksanaan pembelajaran.
2. Hasil brainstorming dituangkan dalam format identifikasi dan klasifikasi masalah
3. Hasil kerja kelompok (bila waktu tidak cukup dapat diambil sampel kelompok tertentu) dipresentasikan untuk dilihat kebenarannya dalam mengklasifikasi.
4. Bahan presentasi/sumber belajar yang digunakan: (a) Bahan presentasi-3: Format identifikasi dan klasifikasi masalah, (b) Bahan presentasi-4: Contoh daftar masalah dalam pembelajaran matematika SMP yang sudah diklasifikasi, (c) Sumber Belajar-3: Format identifikasi dan klasifikasi masalah.
5. Hasil brainstorming: Daftar masalah dalam pembelajaran matematika SMP yang dihadapi para guru peserta yang sudah diklasifikasi menurut aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan praktik/pelaksanaan pembelajaran.

Kegiatan-3 (50 menit):
Diskusi kelas mencermati case study dalam rangka mengidentifikasi masalah, menganalisis faktor penyebab masalah, dan merumuskan masalah.
1. Guru pemandu memandu kegiatan diskusi dengan memanfaatkan bahan presentasi materi diskusi dan contoh rumusan masalah atau sumber belajar lain yang tersedia.
2. Masalah diidentifikasi dari case study-1. Bila diperlukan, dapat digunakan sumber belajar tentang contoh proses merumuskan masalah.
3. Hasil diskusi dituangkan dalam format identifikasi dan rumusan masalah.
4. Dalam hal menganalisis faktor penyebab masalah dapat berpijak pada uraian dalam case study itu sendiri dengan dipandu bahan presentasi materi diskusi. Bila diperlukan dapat disertai dengan menganalisis kemampuan-kemampuan matematika yang telah dipelajari siswa. Jika demikian maka diperlukan daftar SK dan KD mata pelajaran matematika SMP.
5. Bahan presentasi/sumber belajar yang digunakan: (a) Bahan presentasi-5: Materi Diskusi, (b) Bahan presentasi-6: Format Identifikasi, Analisis dan Rumusan Masalah, (c) Sumber belajar-1: Daftar SK dan KD mata pelajaran matematika SMP, (d) Sumber belajar-2: Case study-1 pembelajaran matematika, (e) Sumber belajar-6: Contoh proses merumuskan masalah.
6. Hasil diskusi kelas: daftar masalah, kemungkinan faktor penyeabab masalah, rumusan masalah yang diidentifikasi dari case study-1 pembelajaran matematika.

Kegiatan-4 (50 menit):
Diskusi kelas mempelajari atau mencermati video pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi masalah, menganalisis faktor penyebab masalah, dan merumuskan masalah.
1. Guru pemandu memimpin kegiatan diskusi dengan memanfaatkan bahan presentasi materi diskusi.
2. Kegiatan diawali dengan meminta guru peserta mengamati video pembelajaran matematika SMP. Dalam mengidentifikasi masalah melalui video pembelajaran dapat dibantu dengan lembar observasi dari Lesson Study seperti yang tercantum pada sumber belajar. Bila diperlukan, dapat digunakan sumber belajar contoh proses merumuskan masalah atau sumber belajar lain yang tersedia.
3. Hasil diskusi dituangkan dalam format identifikasi dan rumusan masalah.
4. Dalam hal menganalisis faktor penyebab masalah dapat berpijak pada uraian dalam studi kasus itu sendiri dengan dipandu Bahan presentasi materi diskusi. Bila diperlukan dapat disertai dengan menganalisis kemampuan-kemampuan matematika yang telah dipelajari siswa. Jika demikian maka diperlukan daftar SK dan KD mata pelajaran matematika SMP.
5. Bahan presentasi/sumber belajar yang digunakan: (a). Bahan presentasi-5: Materi Diskusi, (b) Bahan presentasi-6: Format Identifikasi, Analisis dan Rumusan Masalah (c) Sumber belajar-1: Daftar SK dan KD mata pelajaran matematika SMP, (d) Sumber belajar-4: Video pembelajaran matematika SMP, (e) Sumber belajar-5: Lembar Observasi dari Lesson Study, (g) Sumber belajar-6: Contoh proses merumuskan masalah.
6. Hasil diskusi kelas: daftar masalah, kemungkinan faktor penyebab masalah, rumusan masalah yang diidentifikasi dari video pembelajaran matematika SMP.

Kegiatan-5 (35 menit):
Latihan secara berpasangan mengidentifikasi masalah, menganalisis faktor penyebab masalah, dan merumuskan masalah dari studi kasus, video pembelajaran atau respon/hasil kerja siswa.
1. Guru pemandu mengarahkan kegiatan latihan. Guru peserta bekerja dalam kelompok berpasangan.
2. Masalah diidentifikasi dari case study-2 pembelajaran matematika SMP, video pembelajaran atau respon/hasil pekerjaan siswa. Bila diperlukan, dapat digunakan sumber belajar contoh proses merumuskan masalah atau sumber belajar lain yang tersedia.
3. Hasil diskusi dituangkan dalam format identifikasi dan rumusan masalah yang disediakan.
4. Dalam hal menganalisis faktor penyebab masalah Anda dapat berpijak pada uraian dalam studi kasus itu sendiri dengan dipandu materi diskusi. Bila diperlukan kegiatan ini dapat Anda sertai dengan menganalisis kemampuan-kemampuan matematika yang telah dipelajari siswa. Jika demikian maka diperlukan daftar SK dan KD mata pelajaran matematika SMP.
5. Bahan presentasi/sumber belajar yang digunakan: (a) Bahan presentasi-5: Materi diskusi, (b) Bahan presentasi-6: Format identifikasi dan rumusan masalah, (c) Sumber belajar-1: Daftar SK dan KD mata pelajaran matematika SMP, (d) Sumber belajar-3: Case study-2 pembelajaran matematika SMP, (e) Sumber belajar-4: Contoh video pembelajaran matematika SMP, (f) Sumber belajar-5: Respon/hasil pekerjaan siswa, (g) Sumber belajar-6: Contoh proses merumuskan masalah.
6. Hasil latihan: Daftar masalah yang teridentifikasi hasil latihan, faktor-faktor penyebabnya, dan contoh satu atau lebih rumusan masalah dari case study dan video pembelajaran matematika SMP serta hasil pekerjaan siswa.

Kegiatan-6 (15 menit):
Rangkuman, refleksi dan pemberian tugas terstruktur dan belajar mandiri.
1. Guru pemandu memimpin pembuatan rangkuman. Rangkuman dapat diuraikan oleh guru peserta.
2. Kegiatan refleksi dapat mengacu pada daftar pertanyaan refleksi.
3. Guru pemandu meminta setiap guru peserta agar membaca uraian tugas terstruktur dan tugas mandiri. Uraian tugas terstruktur dan tugas mandiri dapat dilihat pada sumber belajar. Guru pemandu menekankan bahwa hasil tugas terstruktur adalah studi kasus dari pembelajaran yang dikelola masing-masing guru yang sudah disertai daftar masalah, faktor-faktor penyebab dan rumusan masalah.
4. Sebelum mengakhiri kegiatan guru pemandu menginformasikan topik belajar pada pertemuan berikutnya, yaitu prosedur perencanaan. Guru peserta diingatkan pula bahwa pembahasan pada topik perencanaan akan sangat berhubungan dengan studi kasus yang dibuat oleh masing-masing guru peserta sebagai hasil penyelesaian tugas terstruktur. Oleh karena itu, pada pertemuan berikutnya setiap guru harus membawa studi kasus masing-masing yang disertai dengan rumusan masalah.
5. Bahan presentasi/sumber belajar yang digunakan: (a) Bahan presentasi-7: Daftar pertanyaan refleksi, (b) Sumber belajar-7: Contoh rangkuman Identifikasi Masalah.

Bagian I: Membuat daftar masalah pembelajaran matematika yang dihadapi dan menyusun case study.

1. Apakah Anda merasakan bahwa selama ini siswa Anda bermasalah dalam memahami mata pelajaran matematika yang Anda kelola? Coba Anda renungkan, masalah apa yang umumnya dihadapi siswa Anda. Daftarlah masalah yang Anda temukan. Pilih salah satu masalah yang layak untuk diangkat sebagai masalah dalam PTK. Selanjutnya lakukan analisis kemungkinan penyebab masalah dan rumuskan masalahnya.
2. Berkali-kali Anda telah melaksanakan pembelajaran. Adakah perasaan tidak puas? Pembelajaran manakah yang membuat Anda tidak puas? Coba lakukan refleksi terhadap pembelajaran yang membuat Anda tidak puas itu. Tuliskan hasil refleksi itu dalam bentuk narasi. Hasil tulisan Anda akan menjadi suatu case study.
3. Agar case study Anda bermakna dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah, berikut ini rambu-rambu yang harus dipenuhi dalam narasi case study Anda.
a. Ada judul case study.
b. Menggambarkan ringkasan alur pembelajaran
c. Menguraikan aktivitas siswa dan aktvitas guru
d. Menggambarkan media pembelajaran yang digunakan
e. Mengilustrasikan suasana pembelajaran
f. Menguraikan hasil belajar yang dicapai siswa
4. Case study Anda itu akan menjadi salah satu pijakan Anda dalam mengidentifikasi masalah yang Anda hadapi dan menyelesaiakan tugas terstruktur kegiatan belajar berikutnya, yaitu perencanaan tindakan. Case study Anda itu juga akan menjadi salah satu portofolio Anda.
5. Cermati case study Anda dan identifikasi masalah yang ada di dalamnya. Analisislah faktor-faktor penyebabnya dan rumuskan masalahnya.
6. Bawalah case study Anda dan daftar masalah serta rumusannya itu pada pertemuan kegiatan belajar di MGMP berikutnya.

Bagian II: Membaca kritis suatu artikel

Petunjuk:
Ambillah sumber belajar yang berjudul “Penelitian Pendidikan SD: 4 SKS yang disusun oleh Aunurrahman, dkk, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Bacalah Bahan presentasi
halaman 5-22 s.d. 5-33 yang terkait dengan “Masalah-masalah Pembelajaran yang dapat dikaji melalui PTK.”

1. Pelajarilah secara cermat Bahan presentasi tersebut dan garisbawahilah konsep dan/atau materi yang Anda anggap penting.
2. Bandingkan hasil kegiatan Anda dengan teman Anda. Jika terdapat perbedaan diskusikanlah.
3. Untuk memperjelas, mari kita perhatikan karakteristik butir 4, yaitu “Masalah yang strategis.” Sebagai contoh, kita memilih “masalah yang strategis” dalam pembelajaran matematika, yaitu: “siswa sulit melakukan operasi bentuk aljabar.” Operasi bentuk aljabar ini merupakan topik baru bagi para siswa SMP. Jika para siswa dapat memahami dengan baik operasi bentuk aljabar ini, maka mereka akan dengan mudah memahami topik-topik berikutnya yang terkait dengan operasi bentuk aljabar. Dengan perkataan lain, operasi bentuk aljabar merupakan prasyarat bagi topik-topik berikutnya baik di tingkat SMP maupun di tingkat selanjutnya. Berdasarkan kurikulum matematika SMP, SMA/MA, SMK/MAK, dan bahkan perguruan tinggi; operasi bentuk aljabar ini antara lain akan digunakan dan dimanfaatkan oleh para guru dan siswa ketika mereka mempelajari persamaan, pertidaksamaan, relasi, fungsi, suku banyak, eksponen, logaritma, rasio, proporsi, limit fungsi, turunan fungsi, integral, dan matriks. Para guru dan siswa pasti menggunakan operasi bentuk aljabar dalam menyelesaikan persamaan linear, pertidaksamaan linear, persamaan kuadrat, dan pertidaksamaan kuadrat. Dengan demikian para guru harus menguasai dengan baik dan terampil menyajikan operasi bentuk aljabar dalam pembelajaran mereka. Ini menunjukkan bahwa operasi bentuk aljabar merupakan masalah yang strategis dalam pembelajaran matematika dan perlu disajikan secara efektif oleh para guru dalam pembelajaran mereka.
4. Telaahlah apakah operasi bentuk aljabar juga memenuhi 6 butir karakteristik masalah yang lainnya ataukah tidak? Uraikan jawaban Anda.
5. Tulislah 1(satu) topik atau subtopik matematika SMP yang memenuhi ketujuh karakteristik masalah tersebut dan yang dapat dijadikan masalah PTK.
6. Bandingkan apa yang Anda peroleh dengan yang dikemukakan oleh teman Anda.

Berikut ini tugas mengamati pembelajaran pada video dan membaca artikel secara kritis.

Petunjuk:
Ambillah “CD Matematika Sekolah Menengah Pertama” yang tersedia di Paket Pembelajaran BERMUTU dan putarlah CD tersebut. CD itu memuat 5 (lima) “Model Pembelajaran Matematika Sekolah Menengah Pertama” yang diselenggarakan di 5 (lima) SMPN oleh guru matematika di sekolah masing-masing. SMPN yang dimaksud adalah (1) SMPN 1 EROMOKO – Wonogiri, (2) SMPN 1 Melonggo – Jepara, (3) SMPN 1 Ngariboyo – Magetan, (4) SMPN 1 Pangsid, dan (5) SMPN 3 Kawangkoan – Manado. Bila CD itu sulit diperoleh, Anda dapat menggantinya dengan CD pembelajaran lainnya.
1. Simaklah kelima model pembelajaran tersebut secara seksama.
2. Menurut Anda apa pesan guru dalam pembelajaran tsb.
3. Pilihlah salah satu model pembelajaran, amati dan kajilah secara mendalam:, serta catatlah hal-hal penting menurut Anda.
4. Coba identifikasi 3 (tiga) kegiatan pembelajaran untuk masing-masing komponen atau unsur PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Lihat kriteria PAKEM yang ada di Sumber Belajar.
5. Identifikasilah hal-hal atau kejadian-kejadian yang kurang baik menurut Anda dan tidak perlu ditiru oleh guru ditinjau dari segi pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan praktik mengajar.
6. Tulislah beberapa saran untuk memperbaiki hal-hal atau kejadian-kejadian yang kurang baik pada butir 4 tersebut.
7. Coba identifikasi 3 (tiga) masalah yang ada pada model pembelajaran tersebut. Masalah boleh dikaitkan dengan unsur pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan/atau praktik mengajar.
8. Tulislah penyebab timbulnya setiap masalah yang Anda identifikasi pada butir 6 tersebut.
9. Rumuskanlah 1 (satu) masalah yang dapat diangkat menjadi masalah Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan hasil pengamatan Anda terhadap model pembelajaran matematika tersebut.

F. PENILAIAN

Dokumen portofolio belajar hasil tugas terstruktur dan tugas mandiri setiap guru peserta pada topik Identifikasi Masalah ini adalah: (1) daftar masalah yang dihadapi guru dalam mengelola pembelajaran matematika SMP, (2) laporan case study pembelajaran matematika SMP dari kelas masing-masing, (3) daftar masalah pembelajaran matematika SMP, kemungkinan penyebab dan rumusan masalah yang diperoleh dari case study masing-masing, (4) laporan hasil kajian kritis membaca artikel, (5) laporan hasil kajian terhadap tayangan video pembelajaran matematika SMP.

Dokumen laporan hasil kajian kritis membaca artikel merupakan salah satu portofolio yang dinilai oleh LPTK.

G. LAMPIRAN
TOPIK IDENTIFIKASI MASALAH:
1. BAHAN PRESENTASI
Bahan presentasi-1 Informasi Kegiatan pada Pertemuan Tentang Identifikasi Masalah
Bahan presentasi-2 Kedudukan Identifikasi Masalah dalam Urutan PTK
Bahan presentasi-3 Format Identifikasi dan Klasifikasi Masalah
Bahan presentasi-4 Daftar Contoh Masalah Pembelajaran Matematika SMP Menurut Aspek Pengembangan Kurikulum, Penguatan Materi, dan Praktik/Pelaksanaan Pembelajaran
Bahan presentasi-5 Materi Diskusi
Bahan presentasi-6 Format Identifikasi, Analisis dan Perumusan Masalah
Bahan presentasi-7 Daftar Pertanyaan Refleksi

BAHAN PRESENTASI-1: Informasi Kegiatan Pertemuan Identifikasi Masalah
Kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, kegiatan yang akan dilakukan, dan hasll belajar yang diharapkan.
Kompetensi Indikator Pencapaian Kompetensi Kegiatan Belajar Hasil Belajar yang Diharapkan
Guru mampu:
1. melakukan refleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, sebagai dasar perbaikan kinerja guru dalam mengelola pembelajaran
2. menyusun langkah pertama dalam perencanaan Penelitian Tidakan Kelas yaitu mengidentifikasi dan merumuskan masalah a. Mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi
b. Mengklasifikasi masalah-masalah yang terindentifikasi ke dalam aspek pengembangan kurikulum, pengua-saan materi, dan praktik/pelaksanaan pembelajaran
c. Menganalisis faktor-faktor penyebab masalah
d. Merumuskan masalah Brainstorming permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru, diskusi kelas dan, latihan (berpasangan) mengidentifikasi masalah, menganalisis faktor penyebab masalah, dan merumuskan masalah
a. Daftar masalah pembelajaran matematika SMP yang dihadapi para guru peserta yang sudah diklasifikasi menurut aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan pelaksanaan pembelajaran
b. Daftar masalah teridentifikasi dari case study pada sumber belajar-2 dan -3, faktor-faktor penyebabnya, dan contoh rumusan masalah dari masalah yang teridentifikasi.
BAHAN PRESENTASI-2: Kedudukan Topik Identifikasi Masalah dalam Urutan PTK

BAHAN PRESENTASI-3: Format Identifikasi dan Klasifikasi Masalah
No Sumber belajar
Masalah pembelajaran yang teridentikasi Area masalah
Pengembangan
Kurikulum Materi
Matematika Praktik/Pelaksanaan
Pembelajaran
1. Case Study Siswa kurang terampil dalam melakukan operasi bilangan bulat positip dan negatip  RPP yang dirancang belum sesuai dengan kondisi kemampuan siswa
 Instrumen untuk latihan tidak disusun dari mudah ke sulit, loncat-loncat dalam arti tak jelas pengelom-pokannya  Siswa belum terampil melakukan operasi hitung dasar
 Siswa belum memahami ciri-ciri/ketentuan dalam operasi bilangan bulat  Siswa kurang mendapat kesem-patan cukup dalam latihan agar terampil mengoperasikan bilangan bulat
 Tahapan pembe-lajaran tidak mendukung terjadinya penguasaan dengan mudah, karena loncat-loncat
 Tidak semua siswa aktif belajar
2. Video Pembe-lajaran Siswa kurang memahami makna unsur-unsur pada bentuk aljabar Ada salah konsep dalam mengkonteks-tualkan bentuk aljabar Ada salah konsep dalam mengkonteks-tualkan bentuk aljabar Media pembelajaran yang digunakan kurang sesuai untuk kegiatan klasikal
3. Pekerjaan/Respon Siswa … … … …
4. Pengalaman guru … … … …
5. … … … … …

BAHAN PRESENTASI-4: Daftar Contoh Masalah Pembelajaran Matematika SMP
ASPEK MASALAH

Pengembangan Kurikulum • Guru kurang terampil mengembangkan silabus, RPP yang mencerminkan PAKEM dan mudah diterapkan
• Guru kurang paham mengembangkan indikator pencapaian kompetensi yang sesuai untuk siswanya
• Guru kesulitan dalam memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan materi ajar
• Guru belum memahami hakikat tujuan mata pelajaran matematika
• Guru kurang terampil mengembangkan instrumen penilaian hasil belajar yang sesuai dengan tujuan mata pelajaran matematika
• Guru kurang terbiasa membuat pedoman penilaian hasil belajar yang mengakomodasi variasi cara berpikir siswa

Penguatan Materi • Siswa belum terampil melakukan operasi bilangan bulat
• Siswa tidak terampil menyelesaikan soal berbentuk cerita
• Siswa tidak terampil melakukan operasi bentuk aljabar
• Siswa kurang kuat pemahamannya tentang konsep dan rumus matematika
• Siswa kurang mampu menerapkan pemahaman konsep matematika ke pemecahan masalah
• Siswa kurang mampu memberikan alasan jawaban yang runtut dan logis

Praktik Mengajar • Siswa pasif
• Siswa kurang lancar mengkomunikasikan pemikirannya
• Siswa sulit memahami persoalan yang berbeda dengan contoh dari guru
• Siswa kurang antusias mengikuti pembelajaran

BAHAN PRESENTASI-5: Materi Diskusi

BAHAN PRESENTASI-6: Format Identifikasi Masalah
No Masalah yang Teridentifikasi Kemungkinan Penyebab Masalah Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

BAHAN PRESENTASI-7: Daftar Pertanyaan Refleksi

2. SUMBER BELAJAR
NOMOR JUDUL AKSES
Sumber Belajar 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika SMP Dilampirkan/ICT BERMUTU
Sumber Belajar 2 Contoh case study-1 pembelajaran matematika SMP Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 3 Contoh case study-2 pembelajaran matematika SMP Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 4 Contoh video pembelajaran matematika SMP dari TIMSS ICT BERMUTU
Sumber Belajar 5 Contoh respon/hasil kerja siswa yang bermasalah Disediakan guru peserta
Sumber Belajar 6 Contoh proses merumuskan masalah Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 7 Contoh rangkuman Identifikasi Masalah Dilampirkan (hand out)
Sumber Belajar 8 Penelitian Tindakan SD – 4 SKS oleh Aunurrahman terbitan Ditjen Dikti Depdiknas Tahun 2008 CT BERMUTU
Sumber Belajar 9 Hylite Modul PTK ICT BERMUTU
Sumber Belajar 10 Buku-buku tentang PTK, misalnya dari Suharsimi Arikunto, dkk, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Cetakan ke-3, Jakarta, Bumi Aksara ICT BERMUTU

SUMBER BELAJAR-2: Case Study-1 Pembelajaran Matematika SMP
MENGAPA YANG ANTUSIAS HANYA MEREKA?
Oleh: Ladi, S.Pd (Guru SMPN 1 Lekok Kab Pasuruan, Jatim)
Pukul 6.30 saya berangkat ke sekolah dengan harapan pembelajaran yang aku berikan pada siswa-siswaku nanti bisa berjalan dengan baik dan semua siswaku bisa paham dan mengerti apa yang sudah saya sampaikan. Pukul 06.55 saya sudah sampai disekolah. Saya melihat jadwal pelajaran yang ada di dinding ruang dewan guru. Ternyata saya mengajar jam ke 3-4. Sambil menunggu waktu aku mempersiapkan alat dan Bahan presentasi yang akan aku sampaikan kepada siswa-siswaku, antara lain: gambar persegi panjang, dan persegi, kertas berpetak,dan penggaris panjang.
Tepat pukul 08.10 bel ganti pelajaran berbunyi. Aku mulai masuk kelas. Sekilas kupandang seluruh ruang kelas. Anak anak masih agak ramai karena habis pergantian jam. Dalam satu kelas ada 40 anak. Saya memberi salam kepada anak-anak: ”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.” Serentak mereka menjawab salam saya. Kemudian saya bertanya kabar mereka. Mereka serentak menjawab.
Setelah saya mengecek kehadiran mereka, saya mulai pelajaran dengan menanyakan pekerjaan yang saya berikan pada pertemuan yang lalu. Setelah itu saya mulai masuk pada pelajaran berikutnya. Pertama saya menyampaikan materi yang akan dibahas yaitu “LUAS PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI” Saya menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu: setelah selesai pembelajaran nanti diharapkan kalian dapat menentukan rumus luas daerah persegi panjang dan luas persegi serta dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari – hari.
Saya mulai bercerita pada anak anak tentang upacara bendera. “Pada saat upacara, siswa kelas VIIa membentuk barisan dengan susunan 3 orang per baris. Jika dihitung dari depan ke belakang maka ada 14 orang. Berapa jumlah siswa kelas VIIa yang ikut upacara” Mereka serentak menjawab,” Empat puluh dua orang.” Saya bertanya lagi pada mereka: ”Dari mana itu ?” “ Tiga kali empat belas”
Kemudian saya beralih cerita tentang ruang kelas dan bertanya: ” Anak-anak, berbentuk apakah langit-langit ruang kelas ini?” Serentak mereka menjawab benar yaitu persegi panjang. Selanjutnya saya bertanya lagi: ”Berapa enternit yang ada di langit-langit?” Selang beberapa waktu, ada tiga anak menjawab enam puluh tiga. Saya membenarkan jawaban mereka, karena ukuran ruang kelas adalah 7m x 9m.
Saya bertanya: ”Dari mana kalian dapatkan enam puluh tiga?” Mereka menjawab:” Dihitung satu per satu, pak” Saya bertanya: ”Siapa yang menghitung dengan cara lain?” Ada satu orang yang menjawab:” Tujuh ditambah tujuh ditambah tujuh ditambah tujuh ditambah tujuh sampai sembilan kali.” Ah, ternyata masih ada siswa saya yang salah memahami konsep perkalian, padahal sudah duduk di kelas VII SMP. Selanjutnya saya meluangkan waktu untuk meluruskan konsep yang salah tersebut. Waktu itu saya tergesa-gesa meluruskannya. Apakah dia paham ya? Bagaimana dengan siswa lainnya?.
Ada satu orang lainnya menjawab:” Tujuh kali sembilan” Saya bertanya “ Kenapa tujuh kali sembilan?” Dia menjawab: ” Karena ada sembilan baris enternit yang masing-masing baris terdiri dari tujuh enternit”
Selanjutnya saya bertanya: ”Sekarang berapa luas lantai kelas ini?” Ada siswa yang menjawab:“Enam puluh tiga meter persegi “ Saya kemudian melempar pertanyaan pada yang lain: ”Ada yang lain ?” Ada yang menjawab:” sama dengan luas langit-langit” “Kenapa kok sama?”, tanya saya lagi. Siswa menjawab:“ Karena luas lantai sama dengan luas langit-langit.” Selama proses dan selesai tanya-jawab tadi saya merasa terganggu dengan kenyataan bahwa yang menjawab pertanyaan saya hanya anak itu-itu saja, lainnya umumnya diam dan bahkan beberapa cuek.
Selesai tanya jawab selanjutnya saya menggambar sebuah persegi panjang di papan berpetak dengan ukuran (6 x 10) petak. “Berapa luas persegi panjang ini?” Amin menjawab:” Enam puluh” Yanto mejawab:” Enam petak kali sepuluh petak sama dengan enam puluh petak” Saya membenarkan jawaban itu dengan memberi penguatan bahwa luas persegi panjag tersebut adalah enam puluh petak yaitu dari hasil kali enam petak dengan sepuluh petak.
Selanjutnya saya membentuk kelompok dengan tiap kelompok beranggota 4 orang. Setelah kelompok terbentuk saya membagikan LKS yang isinya gambar beberapa persegi panjang dengan berbagai ukuran panjang, baik angka maupun variabel, misalnya panjang = p dan lebar = l. Saya minta tiap kelompok mencari formula (rumus) luas daerah persegi panjang tersebut. Saya keliling melihat anak–anak mengerjakan LKS tersebut sambil sekali- kali saya mengingatkan tentang luas lantai tadi. Lagi-lagi saya terganggu dengan kenyataan bahwa siswa yang aktif bekerja di kelompok adalah yang itu-itu saja seperti yang aktif menjawab ketika proses tanya jawab tadi. Setelah saya rasa cukup waktunya, selanjutnya saya minta salah satu anggota wakil kelompok untuk menuliskan jawaban formula (rumus) luas daerah persegi panjang di papan tulis.
Setelah soal pertama selesai mereka saya minta mencari formula luas daerah persegi yang panjang sisinya s melalui gambar persegi pada kertas berpetak. Saya berkeliling untuk melihat mereka bekerja. Kemudian saya meminta salah satu anggota kelompok untuk mengerjakan di papan tulis. Mereka menemukan bahwa luas daerah persegi sama dengan sisi x sisi. Saya bertanya pada salah satu siswa:” Mengapa sisi x sisi?” Dia menjawab:” Karena panjang dan lebarnya sama.”
Selanjutnya saya memberi soal-soal untuk latihan. Ternyata umumnya siswa sudah dapat menentukan luas persegi panjang yang diketahui panjang dan lebarnya, maupun luas daerah persegi yang diketahui panjang sisi-sisinya. Walaupun mereka mampu mengerjakan, namun hati saya sangsi, apakah pada minggu depan mereka masih mampu mengingat rumus luas persegi panjang dan luas persegi kemudian lancar menghitungnya?. Pengalaman selama ini siswa mudah melupakan hal-hal yang telah dipelajari, tak terkecuali rumus-rumus.
Pada akhirnya saya memberi pekerjaan rumah pada mereka untuk dikerjakan di rumah. Sebelum saya mengakhiri pembelajaran pada hari itu saya saya bertanya pada mereka:” Apakah pembelajaran kali ini menyenangkan?” Mereka menjawab:”Sangat menyenangkan”, tapi saya rasa jawaban tidak kompak, anak-anak tertentu saja yang menjawab dengan antusias. Selanjutnya saya mengucapkan salam pada mereka dan sebelum meninggalkan kelas saya berpesan pada mereka untuk selalu belajar dan terus berusaha.
Dalam hati saya merasa puas karena pembelajaran pada hari ini telah berhasil dengan sangat baik, namun di sisi lain ada ganjalan mengapa selalu saja setiap pelajaran matematika yang aktif hanya siswa itu-itu saja. Saya berharap pada pembelajaran yang akan datang juga berjalan dengan baik seperti pembelajaran yang saya lakukan saat ini namun siswa yang antusias semakin banyak.

SUMBER BELAJAR-3: Case Study-2 Pembelajaran Matematika SMP
BUKAN HAL BARU, MENGAPA SULIT PAHAM?
Oleh: Ladi, S.Pd (Guru SMPN 1 Lekok Kab Pasuruan, Jatim)
Menjadi guru matematika adalah impian yang sangat saya dambakan sejak lulus SMA. Menurutku, selain guru olah raga, menjadi guru matematika adalah guru yang paling santai. Setelah menerangkan materi pelajaran, kemudian siswa diberi tugas, maka selanjutnya kita tinggal menunggu mereka bekerja. Ternyata dugaanku salah. Jadi guru matematika ternyata lebih sulit, karena pelajaran matematika sangat tidak disukai oleh kebanyakan siswa.
Pagi hari ini adalah hari pertama aku mengajar untuk tahun ajaran baru ini. Materi yang harus aku berikan kepada anak-anak adalah OPERASI BILANGAN BULAT di kelas 1 (satu) SMP. Indikatornya: menjumlah dan mengurangi bilangan bulat. Setelah proses belajar mengajar selesai saya mengharapkan siswa dapat menjumlah dan mengurangi bilangan bulat, serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah memberi salam saya meminta ketua kelas untuk memimpin berdoa, dengan harapan semoga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan yang di harapkan, dan bermanfaat. Setelah proses berdoa selesai saya mengecek kehadiran anak-anak.
Saya memulai pembelajaran dengan menanyakan seputar materi yang pernah di dapat di sekolah sebelumnya (di Sekolah Dasar). Saya bertanya:” Apa yang dimaksud bilangan bulat? Siapa yang dapat menuliskan Himpunan Bilangan Bulat?” Dari jawaban beberapa siswa, saya kaget karena mereka masih belum paham apa itu bilangan bulat.
Setelah saya mengingatkan tentang bilangan bulat yang sudah diberikan di SD dan bagaimana cara mengoperasikan bilangan bulat maka saya mulai masuk pada materi pokok menjumlah dan mengurangi bilangan bulat. Saya buat beberapa contoh soal menjumlah dan mengurangi bilangan bulat di papan tulis, yaitu, 6 + 7=…, (-5)+6=…, 4 +(-7)=…, 5 – 3=…, 5 – 8=…, 5 – (-5)=…. Saya memberi dua macam contoh cara pengerjaan yang berbeda pada anak, agar mereka dapat memilih cara yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka.
Contoh pengerjaan pertama adalah 6+7=…. Pada soal ini saya meminta salah satu anak untuk ke depan mengerjakannya. Ternyata siswa tidak mengalami kesulitan. Berikutnya (-5) +6 =…. Saya bertanya kepada Rudi:” Berapa hasil dari (-5)+6?” Rudi menjawab:”Min satu” Saya bertanya kepadanya:” Darimana diperoleh negatif satu?” Ia terdiam. Saya tanyakan ke siswa lainnya. Tak ada satupun yang menjawab.
Selanjutnya saya menjelaskan pada mereka dengan menggunakan garis bilangan, seperti cara yang sudah mereka dapatkan di SD. Untuk menghitung (-5) + 6, pijakan hitungan mulai dari angka 0. Karena bilangannya (-5) maka melangkah kekiri 5 satuan, kemudian karena 6 positif maka dari (-5) melangkah kekanan 6 satuan dan berhenti. Ternyata berhenti di angka 1. Oleh karena itu (-5) +6 = 1.
Berikutnya saya menjelaskan cara yang kedua, yaitu dengan mengumpamakan bilangan positif tabungan untuk mengembalikan hutang, dan bilangan negatif itu besarnya hutang. Dengan demikian bila hutangnya lima (-5) kemudian tabungannya 6, maka setelah membayar hutang akan tersisa tabungan 1. Oleh karena itu (-5) +6 = 1.
Selanjutnya saya minta satu persatu anak mengerjakan soal: (-5)+6 =…, 4 +(-7) =…, 5 – 3 =…, dan 5 – 8 =… di papan tulis. Satu persatu anak maju. Ketika seorang siswa mengerjakan 5 – (-5)=…, waktu cukup banyak tersita. Anak tersebut hanya diam saja di depan kelas. Tampak ia memilih cara dengan garis bilangan. Langkah pertama digambarkannya melangkah 5 ke kanan, kemudian dia kelihatan binggung melihat –(-5). Kemudian ia melangkah kekiri sebanyak 5. Saya membantunya dengan menjelaskan bahwa operasi pengurangan merupakan lawan dari operasi penjumlahan atau mengurangi sama dengan menjumlah dengan lawannya, sehingga harus balik. Dengan banyak bantuan akhirnya anak tersebut dapat melakukan pengurangan dengan bilangan negatif. Dari proses mengerjakan ke papan tulis tadi saya berkesimpulan bahwa anak-anak belum lancar mengerjakan operasi bilangan bulat dengan garis bilangan. Saya melihat anak-anak bingung bila sudah menyangkut pengurangan.
Selesai pengerjaan di papan tulis, saya lakukan pembahasan soal yang telah dikerjakan. selanjutnya saya memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya bila masih ada materi yang belum dimengerti. Rupanya tak ada yang bertanya. Berikutnya saya memberi tugas atau latihan yang dikerjakan bersama kelompoknya masing-masing. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang. Soal latihannya adalah: 1 – 5=…, (-5) – 4=…, 3 – (-2)=…, (-6) – (-4)=…, dan 6 – (-4)=….
Pada saat anak-anak bekerja dalam kelompok, saya berkeliling ke seluruh kelompok untuk melihat hasil kerja tiap-tiap kelompok, sambil memberikan bimbingan yang diperlukan secara terus menerus. Dan saya temukan pada tiap kelompok ada siswa yang tidak aktif, dia cenderung diam tidak mau ikut memikirkan bagaimana cara mendapatkan hasil dari proses penjumlahan atau pengurangan pada tugas tersebut. Untuk mengetahui hasil kerja kelompok maka perwakilan dari masing-masing kelompok menuliskan hasilnya di papan tulis. Wakil-wakil kelompok kelihatan lancar menuliskan hasil kerjanya. Saya tidak heran karena yang maju semuanya adalah anak yang paling mampu di kelompoknya.
Setelah selesai penulisan hasil kerja kelompok masing-masing, saya bertanya kepada semua anak apakah sudah paham dengan cara menyelesaiakan soal-soal tadi. Ternyata mereka umumnya diam saja. Ini menandakan bahwa masih belum paham betul mengenai penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Saya berpikir bahwa jangan-jangan untuk yang bilangan bulat positif dijumlahkan atau dikurangkan dengan bilangan bulat positif saja mereka belum terampil. Namun saya juga melihat bahwa beberapa anak sudah lancar menjumlah dan mengurangkan bilangan bulat, baik yang positif maupun yang negatif. Saya sadari bahwa setiap anak punya daya pikir ataupun pemahaman yang berbeda-beda. Ada anak yang dijelaskan berulang kali namun masih belum paham juga, sementara bagi anak lain yang daya pikirnya cepat hal ini sangatlah mudah.
Selanjutnya anak-anak saya ajak untuk membahas hasil dari presentasi tiap-tiap kelompok tadi. Saya minta mereka untuk membetulkan pekerjaan mereka yang masih salah. Dan akhirnya saya bersyukur bahwa pembelajaran saya yang pertama pada tahun ajaran ini dapat saya lampaui dengan baik, dan berjalan lancar dan situasi yang tidak tegang. Walaupun demikian saya masih bertanya-tanya dalam hati kenapa anak-anak masih belum paham mengenai operasai pada bilangan bulat, padahal pelajaran ini sudah mereka dapatkan di sekolah sebelumnya. Apakah ingatannya yang kurang ataukah penjelasannya yang memang kurang jelas, inilah yang terus saya pikirkan sampai saat ini. Dan saya membayangkan apakah mereka bisa mengerjakan soal-soal yang saya berikan untuk dikerjakan di rumah.
SUMBER BELAJAR-6: Contoh Proses Merumuskan Masalah
Andaikan salah satu diantara banyak masalah pembelajaran matematika SMP yang dihadapi/teridentifikasi adalah: rendahnya kemampuan dan keterampilan siswa SMP Kelas VII dalam melakukan operasi bentuk aljabar. Hal itu antara lain ditunjukkan oleh kemampuan siswa SMP Kelas VII dalam memaknai unsur-unsur pada bentuk aljabar salah, misalnya: siswa memaknai variabel yang salah, yaitu: a = apel, b = buku, padahal a dan b adalah variabel yang mewakili bilangan. Siswa juga kurang paham dan kurang terampil melakukan operasi bentuk aljabar, yang ditandai dengan kekeliruan dalam mengoperasikan unsur-unsur bentuk aljabar, misalnya: 2a + b = 2ab, 3a (a + 4b) = 12ab.
1. Mari kita analisis masalah itu dari segi karakteristiknya dan kemungkinan penyebabnya.
a. Masalah itu adalah masalah yang sering dijumpai dalam pembelajaran matematika sehari-hari di Kelas VII.
b. Cakupan masalah tidak luas sehingga penanganan tindakan untuk mengatasinya diprediksi tidak akan merepotkan. Ruang lingkup masalah hanya berkenaan dengan pembelajaran 2 kompetensi dasar (KD) yang saling terkait, yaitu: 2.1 Mengenali bentuk aljabar dan unsur-unsurnya dan 2.2 Melakukan operasi bentuk aljabar.
c. Untuk mengatasi masalah itu tidak diperlukan banyak sarana, media, dan buku sumber karena media dan sumber belajar yang diperlukan banyak dijumpai di sekitar kehidupan siswa di sekolah maupun di rumah.
d. Kemampuan mengenali dan melakukan operasi bentuk aljabar di Kelas VII SMP adalah kemampuan yang sangat strategis. Kemampuan itu merupakan salah satu kemampuan yang mendasari kemampuan lainnya dalam belajar matematika berikutnya di SMP. Kemampuan itu belum pernah dipelajari di SD. Oleh karena itu kemampuan itu termasuk kemampuan prasyarat yang penting karena menjadi modal utama siswa dalam mempelajari semua kompetensi dasar terkait kajian aljabar di SMP, antara lain: (1) menyelesaikan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, (2) menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, dan perbandingan dalam pemecahan masalah, (3) memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis, (4) memahami sistem persamaan linear dua variabel dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. Kemampuan melakukan operasi bentuk aljabar di Kelas VII berhubungan langsung dengan kemampuan melakukan operasi bentuk aljabar yang diperluas dan kemampuan menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya di Kelas VIII.
e. Mengingat kemampuan melakukan operasi bentuk aljabar merupakan prasyarat utama dalam mempelajari kompetensi lain, maka masalah itu harus segera diatasi agar pencapaian kompetensi siswa berikutnya tidak semakin memburuk. Ingat bahwa KD-KD yang dipelajari siswa pada matematika saling terkait dan tersusun secara hirarkis. Bila kemampuan prasyarat bermasalah maka hampir pasti siswa akan kurang menguasai kemampuan matematika berikutnya.
f. Masalah itu sangat nyata karena penyebabnya cukup mudah untuk dikenali. Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain:
• Kurang dikuasainya latar belakang materi oleh guru, khususnya terkait pengertian/ maksud dari suku, variabel, konstanta dan koefisien dalam bentuk aljabar.
• Kurangnya penguasaan guru dalam memilih dan mengelola media pembelajaran yang sesuai
• Kurang tepat dalam pemilihan metode pembelajaran yang berdampak pada praktik pembelajaran yang sulit menimbulkan antusiame siswa dalam belajar
• Pelaksanaan pembelajaran mengenali bentuk aljabar dan unsur-unsurnya tidak kontekstual sehingga pembelajarannya kurang bermakna bagi siswa sehingga siswa kurang dapat memaknai hakekat simbol-simbol aljabar dan makna dari operasinya.
• Walaupun proses pembelajaran sudah kontekstual, namun terjadi salah arah atau salah konsep dalam proses pembelajaran. Kesalahan itu misalnya adalah makna variabel dikonkretkan sebagai nama benda (mewakili benda) bukan mewakili banyak suatu benda (objek) atau bilangan. Contoh: 3 apel disimbolkan dengan 3a, dan a mewakili apel, bukan mewakili banyaknya apel atau mewakili harga sebuah/sekelompok apel. Hal itu terjadi kemungkinan karena keterbatasan penguasaan tentang pengertian dari unsur-unsur bentuk aljabar.
• Lemahnya siswa dalam operasi hitung bilangan bulat dan pecahan yang telah dipelajari siswa sejak di SD dan dilanjutkan pada saat awal belajar di SMP (standar kompetensi pertama yang dipelajari di SMP).
g. Penanganan masalah itu memerlukan tindakan yang berkelanjutan dan waktu yang cukup (diprediksi perlu lebih dari satu siklus untuk dicapainya hasil yang optimal) karena penanganan tidak hanya berkait dengan kemampuan siswa dalam melakukan operasi bentuk aljabar saja, namun juga berkaitan dengan kemampuan siswa dalam mengenali bentuk aljabar dan melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan yang pada umumnya juga rendah.
h. Penanganan masalah dapat dilakukan dengan berbagai cara merujuk pada hasil analisis kemungkinan faktor-faktor penyebabnya. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan membelajarkan kemampuan melakukan operasi bentuk aljabar secara kontekstual.
i. Usaha mengkonkretkan bentuk aljabar dan unsur-unsurnya serta operasinya secara konteks-tual sangat penting karena hal itu akan ber-dampak langsung pada kemampuan bermakna siswa dalam melakukan operasi bentuk aljabar sekaligus akan menguatkan guru dalam pengua-saan materinya tentang hakikat pengertian unsur-unsur aljabar dan makna operasinya. Dengan demikian, masalah itu sangat nyata dan berhubungan dengan pengembangan kurikulum, khususnya terkait pengembangan silabus, RPP dan bahan presentasi, penguatan materi, dan praktik mengajar sekaligus.
3. Dari uraian tersebut, selanjutnya dapat dirumuskan masalahnya. Misalnya masalah yang akan dipecahkan difokuskan pada aspek praktik mengajar. Dengan demikian rumusan masalahnya antara lain adalah:
a. Apakah pemahaman dan keterampilan siswa dalam melakukan operasi bentuk aljabar dapat ditingkatkan dengan pembelajaran secara kontekstual menggunakan benda-benda konkret?
b. Apakah pemahaman dan keterampilan siswa dalam melakukan operasi bentuk aljabar dapat ditingkatkan dengan menerapkan metode permainan menggunakan kartu bilanagn bentuk aljabar?
c. Apakah pemahaman dan keterampilan siswa dalam melakukan operasi bentuk aljabar dapat ditingkatkan dengan menerapakan pembelajaran kooperatif ?
d. Apakah pemahaman dan keterampilan siswa dalam melakukan operasi bentuk aljabar dapat ditingkatkan dengan menerapakan metode pembelajaran latihan terstruktur yang dihubungkan dengan kemampuan prasyarat ?

SUMBER BELAJAR-7: Contoh Rangkuman Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah mencakup: (1) mendaftar semua masalah yang dihadapi, (2) mengidentifikasi masalah mana yang layak dikaji, (3) menganalisis masalah, (4) merumuskan masalah.
1. Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dan kenyataan. Masalah dapat berupa situasi tidak memuaskan atau ganjalan pikiran dan perasaan yang mendorong diri kita (guru/peneliti) untuk mencari solusi.
2. Mengidentifikasi masalah merupakan langkah pertama PTK yang harus dilakukan. Hal itu dapat dilakukan pada saat merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam refleksi diingat kembali kejadian, atau hal-hal yang membuat diri kita (guru/peneliti) tidak puas. Hasil refleksi dapat dituangkan dalam berbagai bentuk, salah satunya dalam bentuk tulisan Case Study.
3. Mengidentifikasi masalah adalah kegiatan untuk menemukan masalah nyata yang terjadi di sekitar kita yang dalam konteks ini adalah di sekitar pembelajaran matematika yang kita kelola sehari-hari. Dari identifikasi masalah akan dihasilkan daftar masalah yang terjadi di kelas.
4. Masalah-masalah yang telah teridentifikasi hendaknya dicarikan jalan keluar atau solusinya. Bila akan dilakukan PTK, tidak semua masalah layak dikaji melalui PTK. Masalah yang dapat dikaji melalui PTK adalah masalah yang memenuhi karakteristik: (a) berkaitan dengan pembelajaran sehari-hari, (b) cakupannya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, (c) sesuai dengan kemampuan guru, (d) strategis, (e) membutuhkan penanganan yang relatif segera, (f) nyata, (g) memerlukan penanganan secara berkelanjutan
5. Masalah yang ditemukan ada kemungkinan masih belum jelas atau samar-samar. Untuk itu perlu dilakukan analisis masalah yang tujuannya untuk: (a) mendapat kejelasan masalah sesungguhnya, (b) kemungkinan faktor penyebabnya, (c) menentukan kadar permasalahan.
6. Analisis masalah dapat dilakukan dengan bantuan sumber-sumber atau bahan yang merupakan hasil kerja siswa atau umpan balik dari guru.
7. Setelah masalah dianalisis, selanjutnya perlu dirumuskan masalahnya secara kongkret dan operasional sehingga menuntun alternatif solusinya.
8. Rumusan masalah:
a. Masalah yang dirumuskan memenuhi karakteristik masalah penelitian
b. Merupakan pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui penelitian
c. Masalah dirumuskan dalam kalimat pertanyaan
d. Masalah dirumuskan secara rinci yang menunjuk pada proses dan hasil.
e. Rumusan masalah menunjukkan hubungan antara dua variabel
Rujukan: Bahan ajar cetak dengan judul: Penelitian Tindakan SD – 4 SKS oleh Aunurrahman terbitan Ditjen Dikti Depdiknas Tahun 2008.

%d blogger menyukai ini: