PEMBELAJARAN MELEK MEDIA

31 Agu

PEMBELAJARAN MELEK MEDIA (TELEVISI)
Oleh: Iwan Sumantri, S.Pd
(Guru SMP Negeri 3 Cibadak)

Kemajuan teknologi telah begitu dahsyat merambat kesegala sisi kehidupan manusia, termasuk kemajuan teknologi media. Televisi sebuah benda yang menurut penulis sudah menjadi anggota keluarga yang terus menerus berceloteh tentang berbagai ragam kehidupan selama 24 jam nonstop, menghabiskan waktu dan pikiran kita.

Hampir dapat dipastikan, sebagian besar keluarga (termasuk keluarga guru) di jagat raya ini lebih banyak menghabiskan waktunya bercekrama dengan televisi. Tidak sedikit para remaja (para siswa) yang bertaklid buta kepada benda tersebut, tanpa reserve sama sekali, sehingga televisi akhirnya menjadi pedoman dalam segala aktivitas kesehariannya. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa kebenaran bagi para remaja adalah sesuatu yang ditawarkan dan di “ajarkan” oleh televisi.

Bagi sebagian besar orang, televisi memang sudah memiliki banyak peran, mulai dari peran sebagai guru hingga peran sebagai pengasuh atau baby sitter, yang sangat merugikan perkembangan anak berumur dibawah lima tahun. Hal ini dapat menghitam-putihkan karakter anak di usia selanjutnya.

Televisi memang merupakan benda yang sangat mengasyikan bagi anak, tetapi dampaknya adalah kecerdasan emosi dan kemampuan kognitif serta daya pikirnya dapat terhambat bila terlalu lama waktu dihabiskan di depan televisi, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan di masa berikutnya. Sementara orang tua lebih suka anaknya duduk di muka televisi dibanding bermain di luar rumah.

Mabuk televisi memang sudah begitu jamak di tengah masyarakat kita. Jangankan anak di bawah usia lima tahun, orang dewasapun demikian. Televisi membawa dampak yang tidak kecil terhadap pola hidup orang dewasa seperti meningkatnya budaya konsumtif yang merupakan kesuksesan para produsen memanfaatkan kedahsyatan media.

Karena televisi sudah menjadi bagian dari masyarakat modern, maka sudah selayaknya Departemen Pendidikan Nasional menyisipkan kurikulum yang dapat membimbing masyarakat khususunya peserta didik di sekolah, agar dapat mengetahui dan memiliki bekal untuk berinteraksi dengan media atau televisi. Pemerintah, khsusunya Depdiknas seharusnya sensitif atas kemajuan teknologi terhadap perkembangan dan prestasi belajar siswa, kemudian mencarai alternatif atau terobosan untuk membentengi peserta didik dari dampak negatifnya.

Kurikulum pendidikan sudah saatnya menyisipkan muatan yang memberi arahan atau bimbingan kepada masyarakat, sehingga dapat memanfaatkan media, khususunya televisi, menjadi media yang benar-benar bermanfaat bagi penontonnya. Sebab selama ini penonton tidak mempunyai bekal untuk berinteraksi dengan televisi. Akibatnya, semua yang keluar dari mulut televisi menjadi sebuah kebenaran dan di telan mentah-mentah oleh penonton, khususunya penonton usia dini atau anak-anak.

Penonton perlu diajari apa manfaat bagi mereka dari sebuah tayangan atau iklan yang disampaikan. Disamping itu, penonton sudah selayaknya selektif dalam meonoton tayanag yang ditawarkan oleh pihak televisi, sehingga tidak semua tayangan menjadi tontonan wajib. Sementara pihak pengelola televisi juga harus memikirkan masa depan para penonoton anak-anak. Oleh sebab itu, bentuk tayangan yang menyedot perhatian remaja atau anak-anak selayaknya di tayangkan di luar jam belajar anak.

Disamping itu, pesan yang merugikan penonton perlu dihiliangkan, seperti pesan “tetaplah bersama kami”, sebaiknya diganti dengan “silahkan jika Anda ingin meninggalkan kami”. Dari pesan ini diharapkan penonton akan teringat atau di ingatkan akalu mereka masih memiliki segudang kegiatan yang ternyata jauh lebih bermanfaat dan bernilai dari hanya sekedar menonton televisi.

%d blogger menyukai ini: